Thursday, 29 June 2017

GNPF MUI ITU MAHLUK APA?


Darirakyat.com -- Radikalsme GNPF MUI
Saya sendiri tidak paham, GNPF MUI itu mahluk apa?. Kalau diterjemahkan GNPF MUI itu berarti Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Gerakan yang mulanya dibentuk untuk mengawal fatwa MUI tentang penistaan agama oleh Ahok ini, ternyata tidak bubar meski tujuan mereka sudah tercapai yaitu Ahok dipenjara.

Jadi untuk apa mereka tetap mempertahankan gerakan itu, sedangkan MUI bahkan sudah berlepas diri dari mereka?

Kalau dilihat dari apa yang terjadi, salah satu "kesuksesan" yang mereka klaim adalah gerakan damai 212. Dengan klaim "7 juta umat Islam" mereka merasa sayang untuk membubarkan gerakan itu.

Tujuannya tidak jauh adalah masalah pendanaan. Mereka berusaha mengkapitalisasi gerakan ini dengan jargon 212. Bahkan gerakan ini pernah berniat untuk memproduksi roti 212 - karena ingin mengambil alih market Sari Roti yang menurut mereka sukses mereka boikot.

Selain itu mereka berniat untuk membangun 212 mart atau mereka sebut m212m. Menurut kabar, sudah ada kesepakatan dari mereka. Ada yang nyumbang sertifikat tanah untuk digadaikan, ada yang mewakafkan profesionalisme utk IT-nya dan lain-lain.

Kalau melihat apa yang mereka lakukan, tidak ada satupun yang menyumbang uang cash seperti saat gerakan itu turun ke jalan.

Selain itu ada juga niat untuk membangun koperasi 212 syariah. Pimpinannya bernama SDL, si dia lagi si dia lagi. Yaitu, Bachtiar Nasir, Rizieq Shihab, Zaitun Rusmin dan kawan2nya.

Tapi sampai sekarang terlihat impian mereka kandas, karena misi mengkapitalisasi "umat Islam" belum berjalan. Kenapa ? Penyebabnya, lagi-lagi belum ada yang nyumbang uang cash sebagai modal awal.

Uang cash diharapkan dari sumbangan relawan. Anggap saja seorang nyumbang Rp. 100ribu misalnya, di kalikan 7 juta umat wah modalnya bisa mencapai 700 miliar rupiah. Wow ,gede amirrr..

Tapi impian tetaplah impian. Belum ada yang tertarik untuk menjadi donatur besar. Ada beberapa yang menyerahkan sertifikat tapi minta tolong digadaikan. Ini yang bikin puyeng, sedangkan yang lainnya cuman nyumbang tenaga doang.

Berbeda dengan ketika mereka melakukan gerakan turun ke jalan dulu. Dikabarkan mereka bisa mengumpulkan sampai nilai sekitar 100 miliar rupiah dalam waktu beberapa minggu saja.

Tentu saja mudah, karena ada misi politik dari donaturnya. Kalau tidak ada, buat apa nyumbang2 segala ? Emang sinterklas ??
Eh, maaf Sinterklas kafir rupanya..

Meski kandas, rupanya sayang buat mereka membubarkan GNPF MUI - yang singkatannya gak keren dan susah nyebutnya itu. Karena bentar lagi Pilpres 2019, dan itu bisa dimanfaatkan untuk cari dana lagi. Lumayan modal untuk bikin supermarket dan koperasi syariah..

Karena itulah mereka terus berusaha menaikkan nama GNPF MUI ke permukaan. Salah satunya adalah dengan bertemu Jokowi - dengan kepercayaan diri bahwa mereka adalah tim yang mengatasnamakan umat Islam untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah.

Pertemuan dengan Jokowi diharapkan sekali akan bisa menaikkan nama mereka dan membuat donatur melirik kepadanya.

Tapi apa lacur, mereka malah di ejek dimana-mana baik oleh haters maupun lovers mereka. Yang haters ketawa karena mereka terlihat seperti orang-orang kalah, yang lovers menghujat mereka karena 'berbaik-baik' dengan pemerintah. Gatot al khotot lah ceritanya, makanya mereka sibuk klarifikasi kemana-mana.

Kalau Gus Mus pernah bertanya dalam puisi, "MUI itu mahluk apa ?", mungkin kita juga harus mulai berpuisi, "GNPF MUI itu alien dari planet mana ?" Karena tidak jelas mereka itu bukan ormas, terus apa yg mereka kawal wong MUI "si mahluk apa" aja gak ngakuin..

Sebagai saran aja untuk GNPF MUI, mungkin singkatannya bisa agak dirubah sedikit biar kekinian.
Misalnya, MILF MUI. Dijamin banyak anak muda yang tersihir untuk mengikuti gerakan untuk mengeraskan sesuatu yang sudah mulai melemah itu..
Mottonya : "Anda tegang, kami puas".

Maksudnya dalam aksinya akan selalu ada unsur yang menegangkan, semisal demo2 yang nasi bungkusnya memuaskan.

Seruput dengan tegang. (Penulis Denny Siregar )

Comments
0 Comments

0 comments