Tuesday, 25 July 2017

HTI, Adyaksa Dault, Setya Novanto dan Strategi Jokowi Tutup Pintu Bakar Lumbung Penuh Tikus

Darirakyat.com -- Langkah-langkah Presiden Jokowi sungguh menarik untuk diikuti. Strategi dan pendekatan melawan radikalisme, intoleransi, Islam radikal, koruptor, bandar narkoba dan teroris secara komprehensif terus dilakukan. Hampir semua gerakan mereka dibatasi. Tentu perlawanan dari mereka terjadi. Cara Presiden Jokowi itu seperti membakar lumbung yang dihuni oleh para tikus.

Melawan gerekan tersebut, selain pendekatan pembangunan, tindakan memberangus semua musuh bangsa itu dilakukan oleh Presiden Jokowi. Mengenali semua kekuatan lawan, dan konsolidasi kekuatan sendiri dilakukan dengan penuh perhitungan. Presiden Jokowi selalu menghitung tentang siapa, kapan, dan dampak politik dan sosialnya, ketika suatu tindakan hendak dilakukan.

Strategi menyeluruh dan komprehensif dan tidak parsial dilakukan oleh Presiden Jokowi. Contoh nyatanya adalah kasus Obor Rakyat. Obor Rakyat didekati dengan UU dan ITE. Kini bukan hanya Obor Rakyat, semua yang berbau fitnah, penghinaan, bohong, menghina, melanggar ketertiban akan terkenal UU ITE.

Kini dalam konteks politik yang saling terkait antara gerakan Islam radikal, FPI, HTI, FUI, MUI, para partai politik, dan para begundal politik, tindakan untuk menghancurkan mereka pun dilakukan secara tepat. Akar permasalahan dikenali dengan baik dan tindakan strategis diambil. Akar radikalisme salah satunya adalah bersatunya kekuatan mafia dan koruptor dengan Islam radikal.

Untuk memutus mata rantai itu tentunya menutup dengan langkah hukum, maka dikeluarkan Perppu Ormas oleh Presiden Jokowi. Keluarnya Perppu Ormas ini menghantam secara telak dan menimbulkan penolakan di DPR dan para pendukung gerakan radikal dan para pengkhianat bangsa dan negara.
Terhadap HTI
HTI yang merongrong eksistensi NKRI telah dibubarkan. Para pengikutnya pun harus disingkirkan dari percaturan kebangsaan Indonesia.Tidak perlu memberi ruangan bagi gerakan seperti itu. HTI harus dibasmi karena bahaya laten HTI akan tetap mengancam NKRI. Pembersihan HTI ala terhadap anggota PKI pun selayaknya dilakukan jika mereka bertindak dan berubah menjadi teroris.

Adyaksa Dault tinggal menunggu waktu untuk tersingkir baik dari Pramuka maupun dari komisaris BUMN. HTI dan para anggotanya dilibas. Islam radikal di Indonesia dihabisi. Para PNS anggota dan simpatisan  HTI, juga Adyaksa Dault pun akan disingkirkan. Rangkaian pembubaran HTI dan serangan mematikan terhadap Islam radikal oleh Presiden Jokowi sangat mencengngkan.

Adyaksa Dault tidak bisa mengelak kecuali blingsatan dan kebingungan mencari dalih pembenaran sebagai pendukung HTI. HTI yang didukungnya dalam video nyata itu memojokkannya. Setelah HTI dibubarkan, selanjutnya adalah melibas seluruh gerakan HTI.
PKB merangkul HTI dalam bentuk memberi penjelasan kepada kaum bumi datar, daster Arabia, penolak ideoloogi Pancasila, tentang Perppu. Bukan merangkul dan mendukung HTI. Merangkul anggota dan simpatisan HTI sama saja dengan memelihara anak macan. Tidak akan ada ruangan untuk memelihara HTI.

Para anggota dan simpatisan HTI diburu, seperti PNS anggota HTI harus dipecat. HTI sebagai organisasi pun akan tercerai berai. Kini, para anggota HTI memiliki pilihan masuk ke partai agama PKS, atau masuk parpol seperti Gerindra atau partai lain. Pilihan lainnya adalah bergabung dengan FPI – yang kini  juga tengah terbakar di dalamnya.

Maka pembubaran HTI menjadikan para anggota dan simpatisan berada dalam lumbung terbakar yang pintunya tertutup. Ke mana pun akan terbakar. Keluar pun tinggal dipukul mati.

Terhadap Setya Novanto dan Pansus KPK

Setya Novanto yang menjadi tersangka korupsi E-KTP, kini menghadapi serangan internal di Golkar. Selain di internal Golkar, Setya Novanto pun akan menghadapi serangan dari DPR. Langkah DPR menggenjot pansus KPK adalah wujud perlawanan DPR dan pembelaan DPR terhadap para koruptor.

Mendatangi para koruptor di Sukamiskin adalah wujud upaya pelemahan KPK. Bahkan pembubaran KPK adalah tujuan utama DPR. Orang waras mana pun akan tahu bahwa mengundang dan meminta pendapat para terpidana korupsi di Sukamiskin tentu menunjukkan upaya tersebut. Dipastikan nyanyian para koruptor yang dipenjarakan oleh KPK akan negative dan subyektif terhadap KPK.  Nyanyian Yulianis dan para koruptor tentu menyerang KPK.

Kini, Setya Novanto berada dalam posisi tersulit dalam sejarah. Kekuatan nyatanya kini sebagai manusia terkuat di Indonesia tengah diuji. Semua sumber daya akan dilakukan, mungkiin termasuk paling spektakuler adalah kooptasi terhadap peradilan. Jika hanya seorang Fahri Hamzah saja dimenangkan di pengadilan, apalagi manusia terkuat di Indonesia, Setya Novanto!

Namun, jika ditelisik, Setya Novanto – dan Golkar – dengan ditetapkannya menjadi tersangka, telah merusak citra Golkar secara keseluruhan. Novanto telah menjadikan Golkar sebagai the last bastion for his battle, alias benteng terakhir pertempurannya. Novanto pun didukung penuh oleh para pentolan Golkar. Kondisi ini secara nyata meruntuhkan nama Golkar, dan menjadikanyya sebagai pendukung korupsi.

Kini, pintu ditutup rapat dan hawa panas politik tengah terjadi di dalam tubuh Golkar. Kasus korupsi E-KTP akan membayangi semua partai. Simalakama mendukung Presiden Jokowi terjadi. Di lain pihak Presiden Jokowi bersikap tegas terhadap para pengkhianat dan musuh bangsa dan negara. Setya Novanto dan Golkar dibiarkan berada di dalam lumbung yang terbakar, baik di DPR, di internal Golkar, dan di masyarakat.

Terhadap FPI, GNPF, dan Islam Radikal

Meskipun di masyarakat tengah terjadi euphoria 212 dengan motor FPI, namun sesungguhnya mereka dipastikan tengah menggali kubur mereka sendiri. Pendanaan besar-besaran untuk gerakan kampanye dengan demo 212,  411, dengan dukungan SBY dan para kroninya – dengan pretext seolah mendukung Agus – telah berakhir.

FPI dan FUI yang bangkrut secara finansial dan politik, tengah berusaha menggalang dana. Maka gerakan FPI dan 212 berusaha membuat pasar berupa 212 Mart, dengan tujuan untuk menggalang kekuatan ekonomi berdasarkan sektarianisme dan intoleransi dengan menggemborkan sentimen keagamaan. Mart 212 ini dipastikan hanya akan menjadi Republika II – menggalang dana masyarakat tidak bertanggung jawab. Pun para pembeli mini market 212 yang berdasarkan euforia demo 212 akan menjadi target pemicingan warga masyarakat. Silent majority pun tak akan sudi berbelanja di sana. Gagal total upaya pengikut Islam radikal secara psikologis, finansial, ideologis dan politik.

Lebih lucu lagi, ada upaya memasarkan dan membangun apartment 212 di Bekasi dan Timur Jakarta yang seluruh penghuninya adalah para pendemo 212. Langkah ini menjadi lucu dan akan sangat seru karena kita akan menonton celana cingkrang, daster Arabia, dan kendaraan onta dalam satu tempat. Menggapangkan intelejen untuk memicingkan mata.

FPI dan Islam radikal dibiarkan berkeliaran dan saling membakar diri mereka, setelah pintu lumbung ditutup rapat. Pintu lumbung dan kran dana ditutup sehigga mereke terbakar dan saling cakar sendiri di dalam lumbung yang tidak ada padinya lagi.

Pun lumbung yang berisi SBY, FPI, Gerindra, partai agama PKS, gerakan Islam radikal, satu per satu akan tercerai-berai. Gerindra mulai merasakan kebakaran itu dan keluar dari Pansus KPK.

Cara Presiden Jokowi menutup pintu adalah dengan merangkul MUI, membentuk UKP Pancasila, menguatkan TNI-Polri, dan menggerakkan kesadaran berbangsa bagi rakyat Indonesia. Jargon politik Saya Pancasila, Saya Indonesia bergema melawan radikalisme dan musuh bangsa Indonesia.

Maka di dalam tubuh gerakan Islam radikal itu tengah terjadi kebakaran hebat yang akan menghanguskan mereka. Strategi membakar lumbung penuh tikus di dalamnya efektif membungkam musuh bangsa dan negara. Negara dan ormas tidak akan merangkul dan memelihara bahaya laten para penganut idelogi khilafah. (seword.com)


Comments
0 Comments

0 comments